Kami melambaikan tangan ke arah keluarga yang mengantarkan kami sembari melangitkan do'a, bissmillah. keberangkatan kami mulai dari Batam menuju Kuala Lumpur Malaysia, di pesawat kurang lebih 1 jam, anak-anak aman terkendali. Mereka bermain, mewarnai dan ngemil.
Anak-anak shalih shalihah
Sesampainya di KLIA kami melanjutkan untuk shalat dan makan bersama, disini kami melihat begitu banyak jama'ah Umroh dari Indonesia dan Malaysia. Oh, anak-anak senang sekali naik travelator (ekskalator mendatar), suami selalu siaga membersamai anak-anak, kami selalu bergantian. Kami transit cukup lama disini, sekitar 4 jam. Suami bertugas membawa stroller dan barang bawaan, sedangkan anak-anak adalah tanggung jawabku saat check in, pembagian tugas ini juga berlaku saat naik kereta cepat maupun bus. Anak pertama juga bertanggung jawab atas ransel yang berisi mainan dan anak kedua membawa tumbler air minum. Tiap anggota keluarga bertanggung jawab atas barang bawaannya dan ini sejak dari rumah sudah kami terapkan ke anak-anak.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Bandara KAIA-Jeddah sekitar 9 jam. Perjalanan panjang ini cukup membuatku khawatir karena anak ketiga muntah, namun setelahnya dia mau makan cukup dan bisa kembali bermain, alhamdulillah. Kami tiba di Jeddah sekitar tengah malam waktu setempat. Setelah melewati Imigrasi dan mengambil barang bawaan kami singgah untuk shalat. Anak-anak begitu bersemangat, kami pun sama.
Kami segera memasuki bus yang akan membawa kami menuju Kota Bercahaya, menuju Kota Rasul yaitu Madinah. Alhamdulillah, anak-anak bisa nyaman mewarnai lalu beristirahat. Ketika suami tidur, saya akan mengawasi anak-anak , begitu sebaliknya. Malam itu, sembari memandangi pemandangan di sebalik kaca, mata ini berkaca-kaca. Ya Rabb.. Terimakasih banyak..
tengah malam, tapi asyik mewarnai hehe
4 jam perjalanan menuju Madinah, Allah mudahkan semuanya, kami bisa beristirahat dengan nyaman di bus besar. Yaa Rasulullah, kami menuju kotamu. Semakin dekat, rasanya semakin haru biru. Allahumma sholli 'ala Muhammad. Di sebalik bangunan tinggi itu kami melihat payung khas pelataran masjid, aku bangunkan semua anak-anak agar mereka melihat keindahan Masjid Nabawi meski dari sebalik bangunan. Ingat sekali, aku dan suami sama-sama menangis sambil mengucap syukur, aku juga mengucapkan terimakasih kepada suami karena beliau telah berusaha mewujudkan cita-cita kami, beliau berusaha kerja tanpa lelah untuk membawa aku dan anak-anak beribadah di tanah haram. Masya Allah, Barakallahu fiik suamiku, Allah memberkahimu selalu di setiap nafasmu. Aamiin.
Kami tiba pukul 06.00 pagi waktu setempat, rasa dingin menjalar ke tubuh saat pintu bus terbuka, anak-anak riang gembira mengucap syukur, perjalanan jauh kami tempuh dengan rasa ikhlas dan tawakkal semata mengharap kemudahan dari Allah.
bersambung Insya Allah...




Comments
Post a Comment